Hal Kecil Yang Besar

Advertisement
advertisement
Entah kenapa, awal bulan September ini rasanya begitu tidak enak. pertama karena ada ulangan matematika dan kedua karena saya malu pada para pahlawan kita. Para pahlawan sudah "berperang" dalam arti yang sesungguhnya, mereka melawan senapan dengan bambu runcing. mereka melawan baja dengan kain.

Entah berapa liter darah dan keringat yang sudah membasahi bumi pertiwi demi merebut tanah yang mereka cintai. Jangan tanya apakah mereka dapat balasan dan hadiah. kadang-kadang mereka juga terlupakan oleh para penerus bangsa ini. kenapa saya bilang terlupakan?

Coba saya tanya pada anda, siapa saja nama pahlawan yang ada pada uang kertas pecahan seribu rupiah, dua ribu rupiah, lima ribu rupiah, sepuluh ribu rupiah, dua puluh ribu rupiah, lima puluh ribu rupiah dan seratus ribu rupiah?

Apakah anda hafal semuanya? pastinya tidak. bahkan mungkin anda tidak tau. atau bahkan mungkin buru-buru mengambil uang untuk melihatnya.

Saya sungguh merasa malu pada pahlawan kita. saya sering melihat orang-orang merobek uang, menginjaknya (sengaja maupun tidak), bahkan membakarnya. bukankah itu sama saja dengan melecehkan pahlawan kita.

Jangan jauh-jauh memikirkan keadaan antara Indonesia dan Malaysia. pikirkan, apakah kita sudah menghargai jasa pahlawan kita? kata orang-orang, "Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya".

Sebelum kita berbicara jauh keluar, bagaimana kalau mulai sekarang kita berbenah? Kita adalah para pemuda dan keturunan bangsa Indonesia, para pahlawan sudah jelas-jelas menginginkan tanah airnya tetap satu. tidak boleh ada satu senti pun wilayah ini yang boleh direbut lagi. Negara ini tidak boleh menyempit walau hanya satu inchi.

Tapi, sebelum kita berkata hal itu di dunia Internasional. mari... kita lakukan hal yang paling kita bisa sebagai orang-orang yang mengaku bertanah air Indonesia. yaitu, Belajar.

Mulailah dari hal yang kecil, kemudian berlanjut ke hal yang lebih besar.

Hari ini saya bersuara di blog ini, dan harapan saya besok bersuara di mata dunia.
Advertisement
advertisement
Hal Kecil Yang Besar | Ari Kurniawan | 5

6 Komentar:

  1. Hmm ...sebuah hikmah yg cerdas mas!
    Saya sangat mendukung.
    Tapi saya kurang mendukung blogger yg berteriak2.
    Mengibar baner dan slogan,
    Tapi kualitas blogging masih amburadul
    Jadi marilah kita berjuang dnga cara sendiri,
    Mungkin kita tidak bisa menembus kursi DPR,
    Karena kita bukan seorang politikus
    Mungkin teriakan kita tidak ada artinya menggugat penjahat dunia,
    Karena kita memang bukan seorang jagoan politik dunia,

    TAPI

    Kita bisa menembus juara konten blog terbaik di ASEAN misalnya. Karena kita memang seorang blogger.

    Jadi bg saya, bangun dan berteriaklah di posisi kita masing2. Dan itu berarti, kita telah mengisi kemerdekaan dg cara kita sendiri. Dan itu adalah lambang peghargaan kita pada para Pahlawan....

    Demikianlah amanat upacara bendera pagi ini,
    Selamat belajar di kelas masing-masing,
    dan jangan lupa kita mulai masuk sekolah kembali tanggal 20 September 2010..
    Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

    BalasHapus
  2. Maaf kalau saya hanya teriak-teriak saja, pak. tapi, saya tidak mungkin membiarkan ide saya ini hanya berdiam di kepala saya.

    Kita memang blogger, pak. jadi seperti kata Pak Anas. berteriaklah diposisi masing-masing sambil mengisi kemerdekaan ini. demi para pahlawan.

    *apakah disana sudah libur ya, pak?

    BalasHapus
  3. hemmm...begitu ea...mungkin yang mas maksud adalah ketidakbenaran dalam tindakan...

    saya mengharagi Indonesia mas...bukan karena pemerintah dan semacamnya...saya anggap tanah dan air ini bukan negara...tapi karena manusia...saya benci perang dan semacamnya...itu wujud penindasan...kenapa negara yang repot rakyat ikut tertindas...kenapa kita bisa mengurangi provokasi tapi tidak bertindak?

    kalau boleh jujur saya dulu sampai sekarang memegang teguh prinsip yang dianggap oleh orang sampah...kami cinta akan damai...bagi kami penindasan adalah kejahatan...bagi kami penghinaan sesama rakyat kecil adalah luka bersama...kami ingin tunjukkan kalau kita semua bersaudara...luka mereka adalah luka kita...
    entah berbagai macam bentuk apa itu masalah Indonesia Malaysia...kepulauan, budaya dan makanan...saya hanya tertarik dengan TKI...karena mereka rakyat kecil...jujur saya punya mas saudara yang bekerja di sana...tahu apa mereka dipanggil? Indon...orang rendah...bagaimana perasaan saya? hanya saya yang tahu...sedih mas...

    saya harap semua ini tidak berlanjut...saya takut kakak saya di sana ikut dihajar...saya lakukan report itu agar tidak ada lagi tindak provokasi...kenapa saya posting? karena jujur dibalik tulisan itu saya ingin mengajak orang walau jelas ada tulisan bukan ajakan...kenapa saya mengajak? saya yakin akan banyak orang yang bila membaca akan semakin tersulut emosi...bagi saya ini tindakan saya...saya tidak tahu kalau menurut orang ini salah...yang saya pikirkan cuma kakak saya di sana...saya tidak ingin kakak saya masuk TV karena masalah yang aneh-aneh...

    tapi syukur 2 hari lalu saya telfon gimana kabarnya? katanya aman karena dia ada di lingkup orang-orang Indonesia...ea sudah bagi saya tidak usahlah menghina dan membakar dan berdemo...saya sebagai blogger cuma berbuat itu...entah salah atau tidak...hehe...tapi ini kata hati mas...enggak ada tujuan ingin latah...hahag...maaf ea panjang jadinya...
    semoga saja semua berakhir indah...

    BalasHapus
  4. Semua orang juga tidak suka perang, provokasi berlebih dan pertengkaran, mas. jaman sekarang, lebih baik berdiplomasi. tapi, tindakannya harus lebih "TEGAS", seperti kata bapak-bapak pemimpin kita.

    * Semoga saudara, mas ayub tetap dilindungi oleh Tuhan.

    BalasHapus
  5. Hmm seru juga jadinya ya. Dan saya tersantuh juga dengan curhat mu mas Ayub. Memang saya juga menulis komentar yang isinya hampir sama di Putrainspirasi. Tapi itu bukan saya arahkan pada tuisan mas Ayub. Tapi juga suara hati saya untuk para blogger yang dibakar histeris oleh emosi, sehingga sgt mudah diprovakasi oleh pendekar politik. Padahal dibalik layar (oknum politik Indonesia dan Malaysia), mungkin mereka mempermainkan dan mentertawakan kita sbg rakyat (rakyat Malaysia dan Indonesia).

    Ini politik. Dan politik itu sulit ditebak. Yang kita kira bertengkar, mgk di balik layar mereka bersekongkol. Yang kita kira kawan seperjuangan Nasionalisme, mgk di belakang layar adalah agen yg menyusup halus untuk memperalat kita. Dan jujur, saya tdk berani menyentuh bagian itu....

    Dan soal kakak mas Ayub, saya juga berharap dia akan ttp selamat sampai situasi ini membaik. Dan secara pribadi saya berempati dg suara hati mas Ayub....

    BalasHapus
  6. Mungkin benar yang bapak katakan. tapi, kita hanya rakyat biasa. apa yang bisa kita lakukan? selain hanya berdoa dan sedikit berusaha serta bersuara.

    Saya pernah mendengar kalau politik itu selalu curang. musuhpun, asal sudah satu piring, nasi sepiring makan berdua. kalau sudah beda tujuan, sodara kandung bisa bertengkar. itu politik...

    BalasHapus