Jangan Terlalu Senang

Advertisement
advertisement
Atmosfer Piala AFF tahun ini sungguh berbeda, kejuaraan yang dulunya bernama Piala Tiger ini menjelma menjadi salah satu obat luka paling gila bagi warga Indonesia. Bahkan, Presiden kita yang terhormat menyempatkan dirinya untuk menonton langsung di Gelora Bung Karno, Jakarta.

Harga tiket VVIP yang untuk laga final dijual 1 juta rupiah tidak jadi masalah, karena para pendukung sangat ingin memberi suntikan moral luar biasa bagi para pasukan garuda yang berjuang di lapangan. Padahal masih beberapa hari lagi, tapi perasaan kemenangan sudah diimpikan oleh para "pendukung". Tapi, tunggu dulu. Apakah para "pendukung" sudah siap kalah?

Karena bagi saya, pendukung sejati adalah pendukung yang selalu siap menerima timnya kalah dan tidak akan terlalu senang ketika timnya menang. kenapa? Karena akan selalu ada mimpi yang lebih tinggi untuk diraih.
Entah kenapa,  Piala AFF kali ini memang seperti 2 belah mata uang.

Di satu sisi, Piala AFF tahun ini adalah sebuah titik balik dari persepakbolaan Indonesia yang sepertinya tidak berkembang selama beberapa tahun. PSSI mengatakan inilah hasil dari pelatihan dan pembinaan bertahun-tahun kepada para pemain muda. Tapi, kenapa diwaktu yang sama terjadi naturalisasi pemain? Anehnya, merekalah yang seakan menjadi idola, bukan pemain lokal yang punya rasa Indonesia sejati.

Saya yakin, banyak sekali yang mengidolakan Irfan Bachdim. Walau awalnya dia ditolak dimana-mana, kenapa akhirnya dia yang menjadi idola? Setelah Piala ini, tim yang awalnya menolak mungkin saja akan meminangnya bukan?

Pengamat bola sejati selalu mengatakan kalau sepakbola itu adalah permainan 11 orang dan bola itu bundar. Pakai saja contoh Messi dan Ronaldo, kemampuan individu mereka diatas rata-rata. Harga mereka sangat tinggi, dan mereka punya wajah yang jauh lebih ganteng dari saya.

Tapi, ketika mereka sendirian melawan Persija, siapa yang akan menang? Tentu Persija. Karena sepakbola adalah tim, bukan individu saja.

Inti dari tulisan ini akan saya simpulkan seperti ini.

1. Jangan pernah mengecap diri anda adalah pendukung timnas Indonesia, jika anda hanya mendukung ketika mereka menang dan mencerca ketika mereka kalah.

2. Peran pemain naturalisasi memang sangat terlihat di timnas saat ini, tapi jangan sampai pemain lokal kalah pamor dengan mereka. Tanpa pemain lainnya, 2 pemain naturalisasi kita hanya akan menjadi pesepakbola biasa.

3. Jangan terlalu gembira jika Indonesia menang dan JANGAN RUSAK Gelora Bung Karno jika Indonesia kalah. Kalau Indonesia menang, pikirkan kalau ini masih di Asia Tenggara. Belum Asia dan Belum tingkat dunia. Kalau Indonesia akhirnya harus kalah, pikirkan ini hanya level Asia Tenggara. Kita mungkin akan bicara lebih banyak di tingkat yang lebih tinggi.
Advertisement
advertisement
Jangan Terlalu Senang | Ari Kurniawan | 5

0 Komentar:

Posting Komentar