Keanehan yang Ku Rasa

Advertisement
advertisement
Natal dan Tahun Baru segera datang, walaupun saya tidak akan merayakan Natal. Tapi, saya sangat toleran dengan orang yang merayakan Natal. Paling tidak saya ikut membuat pohon Natal di Gereja. Tulisan ini sebenarnya kurang ada kaitannya dengan perayaan Natal secara umum, tapi hanya berkaitan dengan salah satu unsur dari perayaan Natal. Yaitu Pohon Natal.

Untuk Natal kali ini, sepertinya akan banyak sekali jenis pohon Natal. Mulai dari yang biasa, terbuat dari pinus atau pohon cemara bahkan ada yang dari botol-botol bekas. Yang menjadi masalah dan keanehan untuk saya adalah pohon Natal dari botol bekas.

Saat menonton TV, awalnya saya sangat terkesan melihat ribuan botol plastik bekas dirangkai agar menjadi pohon Natal, rumah Santa dan manusia salju. Bahkan saya menganggap hal itu adalah sesuatu yang memiliki nilai seni tinggi. Tapi, saya akhirnya tercengang ketika mengingat sesuatu.

Kenapa menggunakan botol plastik???

Natal hanya datang setahun sekali, dan nuansa Natal hanya terasa beberapa hari saja di Indonesia. Nah, dengan membuat pohon Natal dari botol plastik. Bukankah itu sedikit agak aneh??

Setelah perayaan Natal, kemanakah botol-botol itu akan dibuang? Di daur ulangkah? Semoga saja. Karena, jika dibiarkan hingga tahun depan. Botol-botol itu bisa saja mengalami pelapukan, apalagi jika tidak disimpan dengan baik.

Sebenarnya masalahnya sederhana saja, kemanakah ribuan botol itu akan dibawa setelah Natal???

Saya harap di daur ulang, kalau sampai malah membuat kotor. Awas saja, saya akan protes pada pengagasnya!
Advertisement
advertisement
Keanehan yang Ku Rasa | Ari Kurniawan | 5

4 Komentar:

  1. ya gak aneh lah, lumayan buat penghematan....

    BalasHapus
  2. Penghematan bagaimana? Menggunakan botol bekas sebagai pohon natal?

    BalasHapus
  3. thanks ya udah comment di blog ane

    BalasHapus