Permasalahan Jalan di Bali

Advertisement
advertisement
Sebagai seorang pelajar SMA yang bersekolah di Sekolah Rintisan Bertaraf Internasional, berangkat sekolah pukul 06.15 WITA dan pulang antara pukul 12.00 - 14.30 WITA adalah hal biasa bagi saya. Motor saya pun yang dulunya sering 'ngambek' karena setiap harinya berjalan cukup jauh, sekarang sudah mulai terbiasa menempuh jarak yang lumayan jauh setiap harinya.

Tinggal di Pulau Bali yang terkenal dengan keindahan alamnya menjadikan nilai tambah sendiri. Setiap saya berangkat dan pulang sekolah, walau terasa agak lelah dan diterpa panasnya matahari tapi bisa sedikit terobati dengan pemandangan sawah menghijau (menguning) dan udara yang lumayan bersih.


Namun, belakangan ini saya mulai berpikir soal jalan di pulau Bali. Jujur saja, menurut saya perkembangan jalan di pulau Bali tidak begitu pesat, sangat berbeda dengan pulau Jawa. Padahal, setiap tahunnya banyak sekali pendatang baru yang berdatangan untuk mengadu nasib di Pulau Bali. Apalagi setelah Lebaran nanti, dipastikan banyak pendatang yang akan membanjiri Bali.

Jalan di pulau Bali sama seperti jalan pada umumnya, berwarna hitam, terbuat dari aspal dan memiliki garis di tengahnya yang berwarna putih. Yang membedakannya, jalan di pulau Bali lebarnya sangat bervariasi. Ada jalan yang lebar (biasanya di Denpasar), ada pula jalan yang sempit.


Daerah Kuta (Kuta Utara, Kuta dan Kuta Selatan) pun yang merupakan daerah pariwisata yang terkenal di DUNIA, ternyata jalannya juga tidak begitu lebar. Sialnya lagi, jalannya sangat sulit untuk diperlebar karena jika jalan diperlebar kemungkinan harus membongkar/mempersempit trotoar serta menebang pohon-pohon peneduh. Jadi, solusinya adalah dengan membuat jalan-jalan alternatif.

Permasalahan jalan di Bali menurut saya adalah jalannya yang kurang lebar alias sempit serta perkembangannya yang tidak cepat. Memang sih sering ada perbaikan jalan namun jarang ada pembukaan jalan baru. Tapi, mungkin itu adalah salah satu cara agar alam di Bali tidak makin rusak. Namun, bukankah ada cara yang lebih baik dan bijak, dengan membuat jalan baru tanpa merusak alam???

Ngomong-ngomong soal jalan, saya sendiri heran dan berpikir cukup keras. Di dekat rumah saya, Jalan Raya Kerobokan. Ada sebuah pohon yang akarnya sampai membuat aspal jalan retak. Namun, pohon tersebut sangat rindang dan sangat berguna pada jam-jam siang. Jika seandainya ada pelebaran jalan di daerah tersebut, apakah pohon itu akan ditebang ya???

Sebuah pertanyaan yang mungkin akan terjawab seiring berjalannya waktu.

Dari Laptop di Kamarnya, DeArryk melaporkan.
Advertisement
advertisement
Permasalahan Jalan di Bali | Ari Kurniawan | 5

0 Komentar:

Posting Komentar