Istoria Malam Minggu

Advertisement
advertisement
Ceritanya dimulai di sekolahan, aku lagi nongkrong nggak jelas di bagian belakang kelas sama Devi, Yande, Wilda dan Witha. Tiba-tiba ada kakak-kakak dateng, tampangnya campur aduk antara pinter, santai, gaul, dan alay. Aku sempet syok waktu dateng, kirain ada apaan. Dengan polosnya (mirip anak TK) mereka bilang,

"Dik, pinjem kelasnya ya??"

Jujur ya, padahal kami belum ada ngijinin lho mereka minjem kelasnya. Tapi, mereka udah main nurunin bangku buat duduk. Padahal, mereka nggak tau kalau dibutuhkan waktu 7 sekon untuk menaikan bangku itu ke meja. Ya, mau gimana lagi. Mereka itu kakak kelas yang udah lebih banyak bayar SPP dari kami. Jadi, kami cuma bisa bengong kayak.... kayak apa gitulah.

Terus, dibelakang kayak pojok gosip. Cewek-ceweknya milih-milih kakak mana yang paling ganteng, sedangkan si Yande cuma bisa ngusap-ngusap ingusnya yang kayak air terjun kembar. Sedangkan aku? Buka opera sambil menunggu anugerah, siapa tau ada ide untuk update blog.

Tanpa dugaan, datanglah Bu Pramiyogi. Sebenernya ibu guru yang satu ini wajahnya ramah banget, belum pernah marah tapi aku malah takut sama guru-guru kayak gitu soalnya susah ditebak. Dia dateng ke belakang (tempatku dkk) dan nanya...

"Lho... kok kalian belum pulang?"


"Belum, bu. Lagi pengen di sekolah aja. Nggak apa kan kalau disini, bu?" Entah siapa yang bilang gitu.

"Nggak apa, asal jangan ribut ya. Entar hilang konsentrasinya kakak-kakak kelas kalian."

Singkat cerita, kakak-kakak tadi yang tampangnya campur aduk udah selesai ekskul biologi (kayaknya sih seleksi buat olimpiade). Aku dan kawan-kawan yang dari tadi cuma bisa ngegosip di belakang akhirnya milih pulang aja. Tapi, yang kesisa cuma aku, Yande dan Devi. Wilda dan Witha udah duluan pulang.

Sebelum pulang, aku deketin meja guru. Disana masih ada Bu Pramiyogi lagi meriksa hasil ujian kakak-kakak tadi.

"Bu, Yande katanya mau liat soal biologinya?" kata si Devi yang sebenernya ngegoda Yande. 

Oh ya, Yande sebenernya ngebet banget pengen ikut ekskul biologi kayak SMP. Tapi, waktu seleksi dia nggak lolos. Malang banget nasibnya, sekarang dia malah selingkuh sama ekskul fisika.

"Boleh, boleh, yande."

"Nggak, ah. Bu." Yande malu-malu alay nggak jelas.

Aku jadi penasaran sama soalnya, dengan asal aku minjem 1 soal buat diliat. Yang aku rasain pas baca soalnya, soal nomor 1 bikin pusing, nomor 2 bikin puyeng, nomor 3 bikin mual, nomor 4 bikin mau muntah... Coba bayangin kalau aku baca sampai soal nomor 30, bisa-bisa masuk rumah sakit.

Akhirnya aku pulang dengan wajah pasrah karena merasa kalau ke sekolah cuma buat majang tampang depan Perpus bareng Reza sambil liatin orang latihan upacara.

Sampai rumah, nggak ada yang spesial. Aku main PS sendiri lalu tidur. Pas jam setengah 2, si Yande nelpon. Katanya mau dateng sekitar jam 4, ya udah... Aku lanjut tidur sambil nungguin dia.

Yande kayaknya hari ini lagi pakai jam karet, janji dateng jam 4. Malah jam setengah 5 sore baru nongol... sambil teriak-teriak. Yang membingungkan, dia teriaknya mirip campuran penggemar beratku atau tukang bakso yang sering aku bohongin.

Ternyata, dia dateng sekedar untuk minta bantuan buat data sekolah. Soalnya, dia jarang make Ms.Excel. Mungkin dia juga nggak tau kalau sebenernya aku juga nggak terlalu ngerti Ms.Excel. Tapi, untunglah tugasnya selesai.

Kedatangan Yande ternyata bukan sekedar untuk itu, dia juga sekalian mau numpang Online... Jadi, kita tukaran laptop... Dia pakai laptopku untuk online, aku make laptop si Yande buat nonton video-videonya di Raditya Dika waktu #StandUpNite. 

Sekitar 2 jam Yande di rumahku dan akhirnya dia pulang karena udah nggak tahan dikejar-kejar sama nyamuk-nyamuk betina yang tergila-gila dengan darah manis Yande.

Oke, sekianlah Istoria hari ini. Bingung dah malam minggu kayak gini mau ngapain, coba aja punya seseorang yang bisa diajak main PS bareng, pasti asyik berat...
Advertisement
advertisement
Istoria Malam Minggu | Ari Kurniawan | 5

0 Komentar:

Posting Komentar