Antara Seharusnya dan Sebenarnya

Advertisement
advertisement
Bahasa Indonesia adalah salah satu bahasa yang sedang berkembang dengan lebih dari 80 ribu kata, ya, walaupun masih kalah jauh dengan Bahasa Inggris dengan hampir 1 juta kata yang dimiliki. Apa bukti dari perkembangannya?

1. Lihat saja di situs-situs di Internet, lumayan banyak situs yang menyediakan pilihan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resminya, contohnya seperti Google, Facebook dan Twitter. Bahkan di Twitter, Bahasa Indonesia termasuk dalam bahasa yang paling banyak digunakan.

2. Bahasa Indonesia diajarkan di banyak negara seperti Australia dan Mesir. Banyak yang belajar Bahasa Indonesia karena tertarik dengan bahasa yang sangat menarik ini.

3. Berdasarkan poin nomor 2,  Bahasa Indonesia sudah diwacanakan menjadi bahasa resmi ASEAN, bahkan ada wacana yang lebih besar untuk menjadikan Bahasa Indonesia sebagai salah satu bahasa Internasional.



Belakangan ini, mulai muncul bahasa yang disebut sebagai "Bahasa Gaul". Bahasa ini sebenarnya sih Bahasa Indonesia, tapi dicampur-campur dengan bahasa daerah (biasanya Jakarta) dan menghasilkan bahasa baru. Selain dicampur dengan bahasa daerah, Bahasa Gaul juga percampuran antara Bahasa Indonesia dengan beberapa bahasa asing seperti Inggris, Jepang, India, Malaysia, bahkan Korea.

Pengguna Bahasa Gaul biasanya adalah anak-anak muda, terutama di kota-kota besar. Kalau di wilayah perdesaan, anak-anak mudanya lebih cenderung menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pergaulannya.

Sekarang, permasalahannya adalah adanya dua pihak yang menentang dan mendukung perkembangan Bahasa Gaul itu. Pihak yang menentang beranggapan kalau Bahasa Gaul itu katanya bisa merusak Bahasa Indonesia yang baik dan benar, sedangkan pihak yang mendukung menganggap kalau Bahasa Gaul bisa memperkaya Bahasa Indonesia itu sendiri.

Saya sendiri bukan pihak yang menentang Bahasa Gaul, karena menurut saya berbahasa dan berkomunikasi adalah salah satu hak manusia yang tidak bisa dipaksakan. Mau seseorang berbicara dengan bahasa kera sekalipun, itu adalah haknya.

Selain itu, kalau kita mau melihat kenyataan di kota-kota besar. Saya tidak akan mengambil contoh yang jauh-jauh, cukup di Denpasar saja. Walaupun kebanyakan adalah orang Bali, tapi semakin sedikit saja anak-anak muda yang menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, apalagi Bahasa Bali dalam bergaul.

Hal ini tidak terlepas dari yang namanya persebaran informasi yang begitu cepat, bagaimana mungkin seseorang tidak terpengaruh jika sejak kecil sudah melihat dan mendengar bahasa-bahasa gaul lewat televisi. Sementara, pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa daerah hanya didapatkan di rumah dan di sekolah yang waktunya sangat sedikit.

Selama Bahasa Gaul itu tidak merusak jati diri Bahasa Indonesia sendiri, maka tidak ada salahnya. Kalau tidak ada bahasa gaul, mungkin tidak akan ada lagu-lagu seperti sekarang ini. Bahasa Gaul di Indonesia bukan hanya muncul setelah tahun 2000an, bahkan sejak tahun 60an sudah ada Bahasa Gaul, tapi mengikuti semangat dari masanya sendiri.

Memang seharusnya, orang-orang Indonesia terutama generasi mudanya menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, tapi jika kita membuka mata dan mau melihat yang sebenarnya. Tidak mungkin kita bisa menggunakan Bahasa Indonesia yang baku di setiap keadaan, karena ada yang namanya PENYESUAIAN.
Advertisement
advertisement
Antara Seharusnya dan Sebenarnya | Ari Kurniawan | 5

0 Komentar:

Posting Komentar