Dilema Ujian Nasional

Advertisement
advertisement
Ujian Nasional (UN) 2012 sekarang ini sedang berlangsung untuk tingkat SMA dan sederajat, beberapa hari lagi lagi UN untuk SMP akan berlangsung dan dilanjutkan dengan UN untuk SD. Bisa dikatakan, selama beberapa minggu ke depan adalah musim UN dimana anak kelas 6 SD serta kelas 3 SMP dan SMA harus berperang demi masa depan mereka.

Selama beberapa tahun terakhir ini, UN seakan menjadi sebuah momok yang menakutkan bagi para siswa. Kenapa? Tentu saja karena alasan kuno yaitu "Belajar selama 3 tahun (6 tahun) hanya ditentukan dalam 4 hari (3 hari)".

Tapi, alasan itu sudah dibantahkan oleh sistem baru dari pemerintah. Dimana nilai kelulusan berasal dari 40% nilai rapor dan 60% nilai UN.

Ujian Nasional seakan menjadi sebuah dilema, di satu sisi Ujian Nasional harus dilakukan demi mendapatkan siswa yang benar-benar pantas melanjutkan ke tingkat berikutnya. Tapi, disisi lain Ujian Nasional benar-benar membuat mental siswa rusak, mereka jadi biasa mencontek.

Dilema Cherry Belle


Selama ini, diberitakan bahwa kita jangan percaya dengan kunci jawaban yang disebarkan lewat SMS. Kenapa? Karena katanya itu menyesatkan. Tapi, kenapa bisa ditemukan bahwa ada kunci jawaban yang tersebar lewat SMS ternyata validasi (kebenarannya) mendekati 70% (cukup untuk membuat lulus UN)?

Yang selama ini juga menjadi topik hangat kenapa UN harus ditiadakan adalah tidak meratanya kualitas pendidikan di Indonesia. Anak-anak yang bersekolah di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Denpasar, dan Surabaya mungkin memiliki fasilitas sekolah yang layak dan bisa ikut bimbingan belajar.

Namun, bagaimana dengan teman-teman kita yang berada di daerah-daerah? Apakah fasilitas di sekolah mereka sudah layak? Apakah mereka bisa ikut bimbel demi kelulusan mereka? Tapi kenapa, soal yang akan mereka kerjakan akan sama dengan anak yang bersekolah di kota-kota besar?

Ujian Nasional juga tidak menghasilkan siswa yang baik kok. Mungkin nilai mereka bagus (entah murni atau tidak), tapi kalau mau jujur UN justru membentuk mental siswa yang suka mencontek dan tidak percaya diri. Kenapa? Karena UN itu dibuat sangat ketat, distribusinya dikawal polisi, saat pelaksanaannya dikawal polisi, bahkan soalnya diberikan kode-kode rahasia. Ini mau Ujian apa jadi mata-mata??

Lalu, dengan semua hal tadi. Apakah UN harus ditiadakan? Tidak! UN harus tetap diadakan sebagai tolak ukur kemampuan siswa, tapi perbaiki semuanya. Mulai dari sistem, kurikulum, sekolah dan segala tetek bengek dalam pendidikan kita. Kalau semuanya sudah benar, dijamin tidak akan ada yang perlu mencontek lagi. Kenapa? Karena nantinya kami sudah siap menghadapi UN, jadi buat apa nyontek?

Dilema Cherry Belle


Bedakan dengan sekarang, banyak siswa tidak siap menghadapi UN karena berbagai sebab. Mulai dari tidak belajar (salah sendiri), anggapan UN itu seram, kegiatan belajar mengajar yang tidak efektif hingga fasilitas sekolah yang tidak menunjang. Oh ya, ada juga lho pihak yang mengkhawatirkan tentang dampak pasca-UN, tapi saya sendiri kurang mengerti apa maksudnya.

Beberapa waktu lalu, saya sempat berdiskusi dengan teman-teman saya masalah pendidikan di Indonesia. Yang salah itu bukan siapa tapi bagaimana. Di luar negeri sana, siswanya diajarkan lebih kepada aplikasi. Jadi, kalau mereka belajar rumus segitiga mereka mengaplikasikannya pada kehidupan sehari-hari. Sedangkan kita kan cuma belajar teori, ya, walaupun ada 'penerapannya' tapi cuma lewat kata-kata di buku.

Ya, inilah Indonesia negeri kita tercinta. Memang sih ada kata-kata, "Kalau bukan kita, siapa lagi?" Tapi, itu bukan berarti kita harus menerima semua begitu saja. Ubahlah sedikit makna dari kata-kata itu, kalau bukan kita yang mengubah Indonesia ke arah yang lebih baik, siapa lagi yang mau melakukannya?
Advertisement
advertisement
Dilema Ujian Nasional | Ari Kurniawan | 5

0 Komentar:

Posting Komentar