RSBI Dihapus, Lalu Apa?

Advertisement
advertisement
Berita yang sangat mengejutkan saya dapatkan minggu ini, berita tentang dihapuskannya Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Sebagai salah satu siswa yang bersekolah di RSBI, saya cukup kaget mengetahui berita ini. Walaupun sebenarnya, isu ini sudah sempat berhembus pada 2012 lalu.

Karena ini bukan berita sembarangan, jadi saya tidak berani menulis sesuatu yang terlalu setuju ataupun tidak setuju dengan berita ini. Tapi, karena saya dulunya juga seorang siswa RSBI (sebelum RSBI dihapus). Jadi, saya sedikit taulah tentang ini.

Menurut berita yang saya baca, masalah dari RSBI paling banyak mengarah pada 2 hal yaitu biaya dan diskriminasi. Biaya bersekolah di RSBI katanya lebih mahal. Emang sih, saya juga merasakan lebih mahal dari teman-teman yang bersekolah di sekolah non-RSBI. Tapi, saya punya harapan dengan biaya yang lebih mahal bisa mendapatkan hasil lebih baik.

Kedua, masalah diskriminasi. Nah, inilah yang saya kurang ngerti. Di daerah saya (Badung, Bali), sepertinya tidak ada diskriminasi antara siswa yang bersekolah di sekolah RSBI dengan yang tidak. Kami tetap bergaul, berteman bahkan sering menghabiskan waktu bersama. Mungkin di beberapa daerah, sekolah RSBI hanya menerima siswa yang pintar serta kaya, jadi teman-teman yang punya kekurangan tidak bisa masuk RSBI.


Oke, itulah sedikit komentar saya tentang dihapuskannya RSBI, dan berikut ini saya merangkum beberapa pendapat tokoh, lembaga dan masyarakat yang saya dapatkan dari beberapa media online.

Joko Widodo (Gubernur DKI Jakarta)

"Setuju, karena mahal. Dulu tidak ada RSBI juga kualitas pendidikan baik"

"Bayar mahal juga belum menjamin sebuah kualitas kalau SDM nya tidak siap. Artinya kesiapan sebuah program memang harus benar" (Republika.co.id)

Rieke Diah Pitaloka (Calon Gubernur Jawa Barat)

"Saya sepakat dengan keputtusan MK,"

"Saya ingin menanyakan apa konsep standar internasional itu, untuk siapa? Kalau itu hanya membuat rakyat semakin jauh dengan dunia pendidikan, untuk apa,"

"Kita bisa mengembangkan kurikulum pendidikan yang lebih baik yang orientasinya tidak melulu pada cara pendidikan barat, tapi kembali pada nilai-nilai lokal, kearifan lokal" (detikBandung)

Dede Yusuf (Wakil Gubernur Jabar)

"Semua sekolah negeri itu harusnya kualitasnya sama. Itu namanya pemerataan pembangunan,"

"Kita harus jemput yang tertinggal dalam urusan pemerataan pembangunan ini, terutama di bidang pendidikan ini," (detikBandung)

Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI)

"Kami berharap Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menghormati hukum dan putusan MK itu,"

"Jangan membangkitkan kembali roh RSBI dengan nama lain," (AntaraNews)



Isjoni (Ketua PGRI Riau)

"Terkait penghapusan RSBI, ada dua pandangan masyarakat. Yang pertama setuju karena RSBI dianggap sebagai sekolah dengan pola pilah-pilah antara yang pintar dengan tidak dan antara yang tidak mampu dengan yang mampu,” (Solopos)

Syifa Puspitasari (Siswa Kelas XII IPA SMAN 1 Kota Tanggerang)

"Saya takut kualitasnya menurun. Apalagi kita sudah nyaman belajar dengan kurikulum dan kualitas yang ada. Soal bayaran juga masih normal, sama seperti di sekolah-sekolah lain," (JPNN)

Fitri (Wali Murid SDN 11 Kebon Jeruk)

"Saya sengaja memasukan anak saya ke RSBI supaya dapat mutu lebih baik. Baru sekolah satu semester, tapi RSBI nya sudah dihapus," (JPNN)

Raihan Iskandar (Anggota Komisi X DPR)

"Visinya bagus, tapi batasan rintisan sampai kapan yang belum jelas. Makanya bagi DPR, apapun keputusan MK nantinya, ini peluang untuk melakukan revisi UU Sisdiknas, karena memang jangan sampai sebuah pendidikan berhenti pada sebuah rintisan,"

"Standar internasional tidak penting. Yang terpenting adalah, bagaimana memenuhi seluruh pelayanan minimal dan menjadikan pendidikan Indonesia diperhitungkan di dunia internasinal. RSBI jangan sampai menutup peluang itu,"

"Kesannya (dengan standar internasional) pendidikan kita tidak diakui di dunia internasional. padahal kemampuan peserta didik kita tinggi dan kenyataannya banyak siswa dari sekolah berstandar nasional, kualitasnya mengalahkan siswa dari sekolah berstandar internasional," (JPNN)

Achmad Sodiki (Hakim Konstitusi)

"Perbaiki saja prakteknya dan peraturan pelaksanaannya. Apalagi RSBI kan masih percobaan. Penghapusan RSBI/SBI akan menyuburkan anak-anak Indonesia bersekolah ke luar negeri," (Harian Analisa)

Saya sendiri masih menunggu apa yang akan selanjutnya terjadi, semoga ini tidak berkembang menjadi sesuatu yang berlebihan. Jika kalian punya komentar tentang ini, silakan tulis komentar kalian dibawah ya. 
Advertisement
advertisement
RSBI Dihapus, Lalu Apa? | Ari Kurniawan | 5

3 Komentar:

  1. setuju saya mas ..
    soalnya sebentar lagi saya akan masuk ke SMA, dan SMA terdekat di kota saya adalah RSBI, dan lebih parahnya lagi saya ini orang miskin..

    BalasHapus
  2. sebenar saya tidak setuju di putuskan untuk bubar program harus di pertanggung jawabkan berapa persenkah sekolah yang memang berstandar internasional..

    BalasHapus
  3. sebenarnya saya tidak setuju rsbi di bubarkan...
    seharusnya hanya sekolah yang tidak dapat menjalankan rsbi saja yang di cabut...

    BalasHapus