Kisah Perang Demo BBM

Advertisement
advertisement
Demo BBM tampaknya udah berakhir, spanduk-spanduk menolak kenaikan sudah diturunkan, para pejuang (baca : pendemo) sudah kembali ke barak(baca : rumah)nya masing-masing dan senjata (baca : alat demo) sudah dikembalikan ke gudang. Mereka sudah kalah, kalah dalam perang ini, perang terhadap kenaikan harga BBM.

21 Juni 2013, Jero Wacik, Menteri ESDM seakan sudah membacakan pidato kemenangan berupa pengumuman kenaikan harga BBM. Tapi, kok bukan Pak SBY yang mengumumkan ya? Apa Presiden kita diganti sementara? Tapi, sewaktu pengumuman penurunan harga BBM pada Januari 2009, kayaknya Pak SBY yang bicara deh. Ehm....

Spanduk-spanduk menolak kenaikan harga BBM yang awalnya tampak gagah, bertuliskan "Menolak Kenaikan Harga BBM" dan disampingnya terdapat wajah orang-orang narsis dengan ukuran yang lumayan gede. Apa mereka nggak kenal facebook ya? Kalau mau narsis disana aja.

Mau demo atau perang bang?
Sekarang Spanduk-spanduk gagah itu entah kemana, mungkin merasa malu karena kalah dan kembali ke penciptanya (baca : Pembuat Spanduk) atau mereka lebih memilih profesi baru sebagai penutup warung bagi pedagang kaki lima.

Para pejuang yang terdiri dari berbagai elemen mulai dari Supir Angkot, Mahasiswa, Buruh, Ibu Rumah Tangga dan lain-lainnya, sekarang kembali menjadi manusia biasa, seorang rakyat Indonesia yang hanya bisa pasrah ketika harus membayar 6.500 Rupiah untuk setiap liter Premium yang dia beli di SPBU. Huft... 

Bicara soal para pendemo pada kenaikan harga BBM baru-baru ini, kata "Mahasiswa" bisa dikatakan yang paling sering muncul sebagai headline berita di TV. Bukan karena kegagahan mereka seperti Mahasiswa tahun 1998 yang berhasil membuat seorang Soeharto lengser.

Dimana mereka hari ini?
Para (oknum) Mahasiswa tahun 2013 ini menjadi headline berita karena berhasil bentrok dengan polisi. Hebat banget kan, selain belajar di kampus para mahasiswa ini selain punya waktu luang untuk berdemo, mereka juga punya waktu untuk bentrok dengan polisi dan merusak fasilitas umum. Pasti mereka adalah mahasiswa terpintar di kampus dengan nilai IPK 4,0 dan akan menjadi cum laude.

(oknum) Mahasiswa ini merupakan pejuang garis keras dalam perang menolak kenaikan harga BBM. Mereka bisa bertahan walau berjam-jam markasnya (baca: kampus) dikepung oleh para polisi.

Ada pula kisah saat para (oknum) mahasiswa yang dengan gagah beraninya menutup jalan raya, sekali lagi, menutup jalan raya. Tujuannya? Mungkin supaya aspirasi mereka didengar oleh pengguna jalan yang lagi kesal karena telat ke tempat tujuan atau stres ditengah kemacetan.

Demo BBM malah buang-buang BBM, Macet Gan
Sayangnya, kegagahan mereka tak berlangsung lama. Warga setempat yang marah dan terganggu ternyata lebih kejam dari ibu tiri polisi. Maka jadilah para (oknum) mahasiswa yang awalnya gagah berani, sekarang menangis seperti bayi.

Tapi, ditengah perang besar yang tengah berkecambuk tersebut. Masih ada mahasiswa yang "berperang" di jalan yang benar. Mereka tidak ikut berdemo, mereka berperang dengan belajar. Berharap suatu hari nanti bisa menggantikan Jero Wacik atau Pak SBY dan membawa negara ini ke arah yang lebih baik.

Inti dari artikel ini sebenarnya sederhana :

Kalau ada rencana kenaikan harga BBM lagi, nggak usah ada "perang kenaikan harga BBM" lagi. Coba ambil sisi positifnya, kita bisa lebih hemat dalam menggunakan BBM. Mungkin akan memilih bersepeda atau jalan kaki ke tempat yang dekat. Atau akan lebih sering naik kendaraan umum.

Demo BBM beberapa waktu lalu itu bukan "Demo" yang baik. Demo itu adalah menyampaikan aspirasi kita dengan cara yang benar. Bukan mengganggu orang lain dengan menutup jalan atau menghancurkan fasilitas umum. Yang ada, bukannya didengar, malah bisa dipenjara.

Bukan melarang menyampaikan aspirasi atau berdemo, tapi jangan lakukan demo yang anarkis dan merusak. Karena itu sama sekali tidak berguna dan malah merugikan.

Stop Demo Anarkis.
Advertisement
advertisement
Kisah Perang Demo BBM | Ari Kurniawan | 5

6 Komentar:

  1. pertamax gan!
    beuh bukan maen artikelnya... (h)
    emang bener kalo gak suka sama pemerintahan sekarang ya belajar yg bener terus lengserin tuh mereka2 8-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap, betul. Mau demo damai ataupun anarkis nggak bakal didengar sama mereka. ;((

      Hapus
  2. visit back ya : www.jam-vista.blogspot.com

    BalasHapus
  3. pengenya di dengar malah gak di anggap, itulah salah pendemo sendiri sampe aksi anarkis pun di lakukan b-(

    BalasHapus
  4. Itu liat yang demo, Indonesia serasa jadi Suriah yak...

    BW ya ke http://j-samudra.blogspot.com/2013/07/jurnal-bbm.html

    BalasHapus
  5. Liat demo itu serasa di Suriah ya gan..
    Nice post gan..

    Visit back ke: j-samudra.blogspot.com ya.
    Thnx

    BalasHapus