Kemerdekaan Hatiku

Advertisement
advertisement
Pagi yang cerah ditanggal bersejarah, 17 Agustus. Hari ini, Ari sedang tidak sekolah karena memang tanggal merah. Tapi, dia mendapat tugas penting hari ini, sebagai peserta di upacara peringatan kemerdekaan Indonesia. Untungnya upacara akan berlangsung sekitar pukul 09.00, jadi dia bisa bangun agak siang. 

Karena berpikir bahwa besok dia bangun siang, maka Ari menghabiskan waktunya untuk bermain game sepanjang malam hingga dia ketiduran di depan komputer kesayangannya.

"Ari... BANGUN..!!!" Suara bagai petir menyambar telinga Ari di pagi hari.

"Kak Ari... Nggak jadi upacara?" Suara itu menjadi sedikit lebih lembut. 

Ari masih setengah sadar dan mengumpulkan serpihan hatinya nyawanya yang terpencar kemana-mana karena suara petir itu. Dia akhirnya sadar bahwa itu adalah suara adik kecilnya, Ayu. Ketika melihat jam, ternyata sudah pukul 08.40

Tanpa BAS BIS BUS, Ari langsung keluar dari kamarnya, berlari secepat kilat menuju kamar mandi. Mandi secepat anak kucing yang tercebur ke kolam renang lalu berganti pakaian dengan seragam sekolah lengkap dengan dasi dan topi yang terlihat sangat tidak rapi. 

Lupa sarapan tapi tidak lupa pamitan pada sang ibu. Dia berangkat menuju tempat upacara? Bukan, rumah kekasih hatinya. Kemarin, mereka berjanji akan datang ke upacara bendera bersama-sama. 

Sampai di rumah kekasihnya, Ayu. Ari melihat sesosok bidadari dengan senyum selembut sutra sedang menunggu sesuatu. 

"Pagi Ayu... Maaf ya telat..." kata Ari sedikit lesu. 

Ayu diam saja, dia tidak naik ke motor Ari. 

"Ada apa?" Ari kebingungan. 

"Aku males ikut upacara, temen-temen yang lain juga pada males ikut upacara. Mending kita jalan-jalan aja yuk."

Batin Ari terguncang gempa hebat, dia merasa bimbang, bagai kapal kecil diatas Samudra Pasifik yang sedang dilandai badai. Dia tau kalau upacara peringatan kemerdekaan akan berlangsung lumayan lama dan dibawah terik matahari yang lumayan panas. 

Tapi, dia juga tau bahwa ikut sebagai peserta upacara adalah salah satu hal yang bisa dia lakukan untuk "berterimakasih" pada apa yang telah dia nikmati saat ini. 

"Aku mau tetep ikut upacara. Kalau kamu mau bolos, silakan aja." Ari menjawab mantap.

"Oh... Jadi gitu... Kamu mau ninggalin aku? Apa sih yang kamu mau cari di upacara? Cewek baru? Ya udah, pergi aja..." 

Ari pun pergi begitu saja, dia yakin pada apa yang dia lakukan. Ayu tampak sangat kesal dan kembali masuk kedalam rumahnya. 


Sampai di lokasi upacara, untungnya belum terlambat. Ari mendapat barisan diantara anak SMP dan anak Pramuka.

Saat sang bendera merah putih dikibarkan, anak-anak SMP labil tersebut sangat ribut dan mengganggu. Datanglah seorang tentara yang memang ditugaskan mengatur dan mengawasi barisan anak sekolah. 

"Kalian ini, ribut saja... Malu..." kata tentara itu agak marah. 

"PANAS PAK.." jawab beberapa anak. 

"Kalau tidak kuat, pergi ke belakang... Jangan ribut..." 

Mereka akhirnya terdiam sejenak, tapi tiba-tiba ribut lagi dan semakin menjadi-jadi. 

Seorang kakek akhirnya mendekati mereka, dari pakaiannya, dia tampaknya seorang veteran perang. Tapi, jalannya masih cukup tegak walau keriput di wajahnya sangat jelas terlihat. Samar-samar, Ari mendengar kata-kata kakek itu. 

"Sulit dibayangkan jika kalian harus hidup dijaman perang kemerdekaan seperti saya, jika kalian merasakan panas seperti ini saja sudah mengeluh."

Siswa-siswa SMP itu masih saja ribut. Lalu, datanglah tentara dengan badan kekar yang tadi. 

"Kalian harusnya malu... Kalian hanya bisa ribut saja..." tentara itu berkata pelan namun tegas. 

Akhirnya siswa SMP itu bisa diam dan upacara dilanjutkan. 

Ari bangga dengan pilihannya kali ini, dia memilih untuk ikut serta dalam upacara dan mendapat pelajaran. Bahwa tugasnya sebagai pengisi kemerdekaan lebih mudah dari pada para pejuang yang merebut kemerdekaan. 

Kemerdekaan itu mahal harganya. Jadi, pertahankan dan isi dengan hal-hal yang baik. Cerita selesai? Belum. 

Selesai upacara, Ari mendapat SMS dari Ayu, kekasihnya. 

"Aku sudah nggak bisa bersama kamu lagi. Kamu nggak pernah ngertiin aku. Kita putus."

Ari sedih? Tentu tidak. Dia merasakan bagaimana rasanya bangsa Indonesia ketika 17 Agustus 1945. Dia merasa hatinya telah merdeka dari penjajahan seorang Ayu. Dan sekarang dia bisa mengisi hatinya dengan hal yang lebih baik (kekasih yang lebih baik).

Fakta : 

  • Cerita ini hanyalah fiksi belaka, jika ada kesamaan nama, tempat dan kejadian, hanya kebetulan semata. 
  • Ini bukan cerita tentang saya, walau nama saya Ari, saya tidak punya adik dan kekasih bernama Ayu. 
Advertisement
advertisement
Kemerdekaan Hatiku | Ari Kurniawan | 5

8 Komentar:

  1. waaaahh aku kira itu beneran kisahmu ri..
    MERDEKA!! tetap semangat ari :)
    nice posting ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kisah ini hampir 99% cuma fiksi kok. Soalnya nggak ada ide untuk campaign bulan ini, jadi buat cerpen aja deh. :-d

      Hapus
  2. Balasan
    1. Terimakasih sob... Semoga berguna :>)

      Hapus
  3. wah akmu kreatif dan luar biasa sekali loh bikin cerpen gini, aku terharu *hehe*
    keren,
    dan yang bikin keren adalah pesan moral yang terkandung di situ'
    emang remaja sekarang tuh maunya enaknya aja, ga ngerasain gimana dulu susahnya ngusir penjajajah.
    keep solid :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah.. makasi... Sekarang udah mulai jarang nulis cerpen lagi, cerpen ini cuma "pelampiasan" karena nggak ada ide aja :-)

      Hapus