Mobil Murah, Bukan Solusi tapi Tragedi

Advertisement
advertisement
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Industri katanya sih bakal meluncurkan Mobil Murah dalam waktu dekat. Saya sendiri tidak tau, yang dimaksud Mobil Murah itu memang harganya yang benar-benar murah atau hanya sedikit lebih murah dari mobil pabrikan Jepang.

Melalui peraturan Nomor 41 Tahun 2013, Pemerintah telah menghapuskan pajak penjualan untuk mobil yang berkapasitas dibawah 1200 cc dengan konsumsi 1 liter bahan bakar untuk 20 km jarak tempuh.

Dari peraturan tersebut bisa diambil kesimpulan bahwa yang disebut Mobil Murah nantinya adalah yang punya kapasitas mesin dibawah 1200 cc dan ramah lingkungan atau bahasa kerennya "low cost green car (LCGC)". Harganya bisa lebih murah karena tidak perlu membayar pajak penjualan.

Salah satu mobil yang sesuai dengan kategori ini adalah Intelligent Geely (IG), sebuah mobil berkapasitas mesin 800-900 cc yang dibuat pabrikan asal Cina. Harganya pun tidak jauh beda dengan sepeda motor pabrikan Jepang, yaitu sekitar 13 juta rupiah saja.

Tapi, tunggu bentar deh. Pernah nggak kepikiran, apa sih dampak yang bakal timbul dari hadirnya mobil murah ramah lingkungan yang harganya sedikit lebih mahal dari sepeda motor??


1. Jalanan tambah macet

Dengan harga mobil sekarang ini yang masih berkisar antara 60-80 jutaan, jumlah mobil di jalan raya sudah sangat banyak. Di Jakarta adalah contoh nyatanya, di Bali juga tidak lama lagi akan menyaingi kemacetan di ibukota.

Bayangkan jika datang sebuah mobil dengan harga yang super murah dan super irit (ramah lingkungan). Pasti semakin banyak orang yang akan punya mobil dan jalanan pun makin macet.

2. Pengusaha angkutan umum merana

Oke, anggaplah masalah pertama bisa teratasi dengan trik-trik jitu dari polisi lalu lintas dan pemerintah. Lalu, bagaimana dengan pengusaha angkutan umum? Bukankah mereka akan merana?

Dengan datangnya mobil murah, orang-orang akan lebih memilih naik mobil pribadi yang lebih nyaman untuk pergi kemana-mana dibandingkan transportasi umum. Bayangkan berapa orang yang akan di-PHK karena ini.

3. Mobil Murah tidak laku

Ini adalah skenario lainnya. Bagaimana jika ternyata Mobil Murah tersebut tidak laku? Saya sih bisa mengerti bahwa wacana ini adalah salah satu cara membangkitkan industri otomotif dalam negeri yang selama ini seperti mati suri.

Tapi, coba deh pikirkan. Target utama Mobil Murah ini adalah masyarakat berpenghasilan kecil dan menengah. Dibayangan saya, masyarakat yang memiliki penghasilan kecil dan menengah akan lebih memilih menabung untuk pendidikan putra-putrinya dari pada membeli sebuah mobil. Lagi pula masih ada kendaraan umum kan?


Dari berita yang saya dapatkan, Gubernur DKI Jakarta pun kurang setuju dengan kebijakan ini. Iya juga sih, Jakarta yang segitu macetnya ditambah dengan ribuan unit mobil murah yang siap "menginvasi" Ibukota, duh, nggak terbayang deh.

Tapi, di satu sisi, saya setuju dengan pendapat dari Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Danang Parikesit. Katanya, kebijakan ini tidak 100% salah. Di satu sisi, kebijakan ini bisa membangkitkan pertumbuhan industri otomotif nasional.

Danang memberikan solusi, bukannya memproduksi mobil pribadi, tapi pemerintah melalui kementerian industri seharusnya memproduksi bus, baik bus listrik ataupun bus hybrid. Dengan cara ini, pemerintah akan menyelesaikan banyak masalah.

Pertama, kinerja sektor perindustrian akan membaik, begitu juga sektor perhubungan. Industri otomotif tumbuh disertai perbaikan transportasi publik.

Kedua, pengusaha transportasi publik yang selama ini sulit meremajakan kendaraannya juga bakal terbantu dan mendapat keuntungan. Jadi, tidak ada lagi kasus bus tidak layak jalan.

Sebagai akhir dari tulisan ini, saya mau mengutip kata-kata dari Enrique Penalosa, wali kota Bogota (Kolombia) masa jabatan 1998-2001

"Kota yang maju bukan dilihat dari kondisi bahwa orang miskin dapat membeli mobil, melainkan ketika orang kayanya menggunakan transportasi publik"
Advertisement
advertisement
Mobil Murah, Bukan Solusi tapi Tragedi | Ari Kurniawan | 5

2 Komentar:

  1. saya setuju dengan kalimat terakhir, sudah terbukti di negara2 maju. ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya begitulah Indonesia, masih perlu banyak belajar supaya jadi negara maju. Salah satunya di bidang perhubungan

      Hapus