5 Perang Puputan di Bali

Advertisement
advertisement
Puputan berasal dari kata "puput" yang artinya "tanggal" / "putus" / "habis" / "mati". Puputan sendiri berarti perang sampai mati dan wajib berlaku untuk seluruh warga yang ada di semua kasta sebagai bentuk perlawanan. Termasuk mengorbankan jiwa dan raga sampai titik darah penghabisan.


Bukan hanya pimpinan (raja) dan prajurit, seluruh rakyat di wilayah bersangkutan juga ikut berperang. Bagi yang sudah cukup umur, wajib ikut berperang, laki-laki atau perempuan. Bagi yang tidak mau terlibat, diharapkan pergi sejauh mungkin dari wilayah bersangkutan sebelum perang dimulai. Biasanya tidak banyak warga yang mau pergi dan sebgian besar akan membela tanah kelahirannya walau tahu pasti akan kalah.

Perang puputan hanya terjadi saat masa penjajahan. Sebelum masa penjajahan, walau sering terjadi perang antar kerajaan di Bali tapi masih memegang etika perang dan punya kekuatan yang seimbang.

Berikut ini adalah 5 Perang Puputan yang pernah terjadi di Bali :

1. Puputan Jagaraga (1846)

Perang ini dipicu oleh politik tawan karang (menahan seluruh kapal asing yang masuk ke dermaga pelabuhan Buleleng - Bali Utara) oleh Anak Agung Jelantik, penguasa daerah Den Bukit (Buleleng) saat itu. Hal ini tidak diterima oleh pihak Belanda yang berusaha masuk ke Den Bukit.

Dipimpin Jendral Mayor A. V Michiels dan wakilnya van Swieten, Kerajaan Buleleng diserang dari laut, udara dan darat. Rakyat Den Bukit tidak menyerah menghadapi serangan tak seimbang ini. Sang Raja pun memerintahkan berperang sampai titik darah penghabisan.



Den Bukit akhirnya jatuh ke tangan Belanda, tapi atas desakan rakyat, Anak Agung Jelantik dan beberapa sesepuh kerajaan berhasil di loloskan ke wilayah Kerajaan Karangasem untuk meminta perlindungan dan mempersiapkan kekuatan untuk menghadapi Belanda.

2. Puputan Kusamba (1849)

Tiga tahun kemudian, Belanda berusaha menduduki wilayah Bali Timur (Klungkung). Hal ini diketahui oleh rakyat desa Kusamba dan menyatakan akan menghadapi secara perang puputan.

25 Mei 1849, Ida I Dewa Istri Kanya, seorang perempuan Bali memimpin puputan Kusamba. Kali ini, pihak Belanda mengalami kekalahan dengan terbunuhnya Let. Jen. Michiels di perang puputan.

3. Puputan Badung (1906)

Setelah hampir 50 tahun tanpa perang puputan, tiba-tiba pada 20 September 1906, Puri Kesiman, Puri Denpasar dan Puri Pemecutan mengumumkan perang puputan melawan Belanda. Hal ini dipicu taktik licik Belanda yang menuduh rakyat Sanur mencuri barang milik seorang saudagar Cina yang kapalnya terdampar di pantai Sanur pada 1904.

Belanda mengelurkan ultimatum kepada Raja Badung, I Gusti Ngurah Denpasar sebesar 3000 ringgit (7500 gulden), dengan batas waktu sampai 9 Januari 1905. Karena merasa tidak bersalah, akhirnya rakyat Badung tidak membayar dan meladeni serangan militer Belanda.



Terjadilah puputan Badung dengan korban di pihak rakyat mencapai 7000 orang. Namun, para wartawan yang dibawa pihak Belanda justru melaporkan Puputan Badung sebagai pembantaian massal militer Belanda terhadap warga sipil tak bersenjata. 

4. Puputan Klungkung (1908)

Dua tahun kemudian, tepatnya tanggal 28 April 1908 terjadi lagi puputan melawan kolonial Belanda. Ini merupakan perang puputan terakhir di masa kerajaan Bali. Perang ini menandai jatuhnya seluruh wilayah Bali ke tangan Belanda.

Di pihak Klungkung dipimpin oleh Ida I Dewa Agung Jambe, Raja Klungkung yang akhirnya gugur. Kemenangan ini menjadi obat menawar rasa sakit akibat kekalahan yang diderita Belanda ketika puputan Kusamba, setengah abad sebelumnya.

5. Puputan Margarana (1946)

Setelah Indonesia merdeka, terjadi lagi perang puputan di Desa Marga, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan. 20 November 1946, terjadi pertempuran habis-habisan antra pasukan Ciung Wanara dibawah pimpinan Let. Kol. I Gusti Ngurah Rai melawan pasukan NICA (pasukan yang dibonceng penjajah Belanda).

Pertempuran diatas kebun jagung di Banjar Kelaci tersebut membuat I Gusti Ngurah Rai dan semua pasukannya gugur membela NKRI. Saat ini, tempat pertempuran itu ditandai dengan situs Candi Margarana.
Advertisement
advertisement
5 Perang Puputan di Bali | Ari Kurniawan | 5

0 Komentar:

Posting Komentar