Ikut Pemilu 2014

Advertisement
advertisement
Pemilu Legislatif 2014 akan berlangsung pada 9 April 2014 mendatang. So what?

Saya adalah seorang anak jurusan IPA yang tidak seharusnya begitu tertarik soal politik dan sebagainya. Tapi, kerena politik mnyangkut masa depan yang berhubungan langsung dengan diri saya. Maka saya harus memberikan perhatian kepada pesta politik 5 tahunan ini.

Karena saya adalah pemilih pemula yang belum pernah sekalipun ikut "nyoblos". Maka, saya mencari-cari informasi mengenai banyak hal. Mulai dari tata cara nyoblos yang benar hingga sesekali melihat caleg yang informasinya bisa saya akses di internet malalui website KPU (kpu.go.id)


Dari apa yang saya dapatkan di internet. Pemilih pemula sebenarnya merupakan "sasaran empuk" bagi partai-partai politik dalam pemilu 2014 ini. Jika SEMUA pemilih pemula ini menyatukan suara untuk mendukung, dipastikan dapat memenangkan pemilu.

Sayangnya, pemilih pemula juga masih dianggap sebelah mata oleh KPU, partai politik bahkan oleh calon legislatif (caleg). Kenapa? Pemilih pemula dianggap sebagai orang-orang yang tidak kritis, tidak begitu peduli dengan pemilu dan gampang dipengaruhi.

Padahal sebaliknya, sebagian besar pemilih pemula adalah orang-orang yang kritis terhadap calon yang akan dipilihnya. Mereka juga memiliki kepedulian yang besar terhadap pemilu karena mereka tau dampak dari pemilu. Pemilih pemula juga tidak mudah dipengaruhi.



Pemilih pemula cenderung sangat kritis. Begini, saat menjelang pemilu (masa kampanye), tiba-tiba muncul orang-orang yang entah siapa yang berharap untuk dipilih. Orang-orang ini melakukan berbagai hal baik seperti kegiatan donor darah, pasar murah sampai kunjungan-kunjungan. Nah,  ketika masa kampanye selesai dan mereka terpilih, mereka hilang!

Ada pula anggota DPR (katanya 80% anggota DPR sekarang, mencalonkan diri kembali) yang entah bekerja atau tidak, saat masa-masa kampanye tiba-tiba saja muncul dengan tagline "Lanjutkan!". Pertanyaannya, "apanya yang mau dilanjutkan kalau selama 5 tahun ini, saya bahkan tidak mengetahui bahwa bapak/ibu adalah anggota dewan???"

Pemilih pemula tidak mudah dipengaruhi karena mereka tidak mudah tertarik, percuma saja para caleg memasang spanduk dan baliho dengan desain yang "jelek" di setiap sudut jalan dengan foto narsis mereka sambil tersenyum "mengemis" suara.


Iklan-iklan KPU di TV saja dinilai masih kurang ampuh menarik perhatian pemilih pemula untuk sekedar mencari informasi tentang pemilu. Apalagi untuk ikut memilih.

Kembali ke soal spanduk dan baliho, rakyat sekarang sudah makin cerdas. Jadi, kalau caleg masih mengandalkan cara "primitif" seperti memasang spanduk dan baliho, hal itu hanya akan meningkatkan kepopuleran mereka TANPA meningkatkan perolehan suara mereka.

Rakyat seharusnya juga sudah cerdas untuk memilih perwakilannya yang memiliki program kerja yang realistis dan bukan hanya janji-janji kosong.\ Politik uang juga seharusnya sedikit demi sedikit ditinggalkan.


Para caleg berpikir "terima uangnya, pilih orangnya.", sebagian orang mungkin berpikir, "terima uangnya, jangan pilih orangnya". Tapi, kata KPU, "jangan terima uangnya, jangan pilih orangnya".

Oke, bagaimana pun. Ikut serta dalam pemilu lebih baik dari pada golput. Suatu ketika, saat pemerintah/anggota dewan yang kita pilih GAGAL, kita punya hak untuk protes. Sama seperti bayar pajak, ketika kamu tidak bayar pajak, kamu tidak punya hak untuk memprotes jalan yang rusak.

Begitu pula saat pemilu, kalau kamu tidak nyoblos, kamu tidak punya hak untuk memprotes anggota dewan yang membolos. Simple, kan?
Advertisement
advertisement
Ikut Pemilu 2014 | Ari Kurniawan | 5

0 Komentar:

Posting Komentar