Ari dan Air

Advertisement
advertisement
Air adalah elemen penting dalam kehidupan umat manusia. Planet bumi kita tercinta, sebagian besar tertutupi oleh air bahkan tubuh manusia pun sebagian besar terdiri atas zat cair. Tapi, sampai saat ini, masih banyak manusia yang tidak tau seberapa pentingnya air bagi kehidupan, di sisi lain, masih ada sebagian umat manusia yang sulit mendapat air bersih.

Cerita pendek sederhana ini akan berusaha menceritakan tentang pemanfaatan air dari dua sisi yang berbeda. Bagaimana ceritanya? Yuk dibaca!


    Siang itu matahari bersinar dengan sehebat-hebatnya, semua orang jadi sangat malas untuk keluar dari ruangan ber-AC yang super sejuk. Salah satunya adalah Ari, siswa SMA pemalas yang baru saja pulang sekolah. Dia langsung masuk ke kamar, menghidupkan air untuk memenuhi bathtub-nya dan berencana untuk berendam.

    Sambil menunggu bathtub-nya kering, dia menyempatkan diri menonton acara kesayanganya sambil bermalas-malasan. Tak disangka, karena udara yang sangat sejuk dari AC yang bergerak naik-turun, Ari pun ketiduran.

    Selama hampir 3 jam, air terus mengalir memenuhi bathtub yang sudah penuh. Ari akhirnya bangun untuk mematikan keran yang sedari tadi mengalirkan air tanpa ampun. Karena Ari sedang terburu-buru, maka dia tidak jadi merendam dan mandi dengan shower saja. Air yang sudah memenuhi bathtub pun dibuang begitu saja.

    Sore itu Ari harus menghadiri sebuah acara peringatan Hari Air Sedunia yang diadakan sebuah LSM lingkungan.

    “Bumi memang sebagian besar tertutup air, tapi taukah kalian kalau hampir semua air yang menutupi bumi adalah air asin? Lalu, dimana sumber air tawarnya?” kata salah seorang narasumber.

    “Sebagian besar masyarakat kita masih memanfaatkan air tanah. Padahal, pengambilan air tanah secara besar-besaran dan terus-menerus punya efek seperti mempercepatan perubahan iklim lokal dan kenaikan permukaan laut.” Narasumber yang lain menambahkan.

    “Setiap 20 tahun, kebutuhan air bersih meningkat, sayangnya dalam 20 tahun mendatang diprediksi air tawar yang tersedia tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan setengah dari umat manusia di planet ini.”

    Ari yang dari tadi sangat mengantuk tiba-tiba terbangun karena pernyataan terakhir yang diungkapkan narasumber tersebut. Dia tidak percaya bahwa dalam 20 tahun, setengah dari umat manusia akan sulit mengakses air tawar.

    Saat sesi tanya-jawab, Ari pun bertanya.

    “Pak, nama saya Ari dan saya mau bertanya. Apakah benar dalam 20 tahun efeknya akan segila itu? Lalu, apa ada bukti dari pernyataan tersebut?” Ari masih kurang percaya.

    “Studi tentang itu sudah banyak dilakukan oleh LSM maupun Universitas. Tapi, saya tidak perlu melakukan studi untuk mengetahuinya. Saat ini saja, masyarakat Indonesia yang memiliki akses air bersih untuk diminum kurang dari 50%.”

    “Kalian yang berada disini termasuk beruntung karena bisa menikmati air bersih. Coba tengok saudara kita yang tinggal di wilayah gersang atau perbukitan. Akses mereka terhadap air bersih yang layak minum sangat susah.”

    “Lalu, kalau memang seperti itu, kenapa pemerintah tidak melakukan sesuatu? Atau apa yang kita bisa lakukan agar prediksi itu tidak terjadi? Karena 20 tahun mendatang, kemungkinan saya masih hidup dan bisa saja menjadi bagian dari sebagian umat manusia yang tidak bisa mengakses air tawar”

    “Pemerintah sudah melakukan berbagai upaya seperti pembuatan penampungan air dan pipa agar masyarakat tidak perlu jauh-jauh ke sumber air. Tapi, jika di wilayah itu memang sedang krisis air, mana mungkin pemerintah mengekspor es dari kutub kan?”

    “Karena itulah kita perlu meniru Negara di Timur Tengah sana, mereka sadar bahwa Negara mereka itu panas dan gersang. Jadi, mereka menanam banyak pohon. Bukan sekedar sebagai penghasil oksigen dan perindang tapi juga sebagai penahan air.”

    “Penahan air? Maksudnya?”

    “Kalian pasti sudah belajar yang namanya Daur Air sewaktu SD atau SMP kan dimana air laut menguap menjadi hujan di daratan, lalu mengalir lagi ke laut. Nah, fungsi pohon adalah sebagai penahan supaya tidak semua air hujan itu langsung mengalir ke laut. Jadi, masih tersisa sedikit di dalam tanah untuk kita minum.”

    Acara tersebut berakhir dan Ari pulang dengan perasaan gundah-gulana-galau. Dia yang selama ini menganggap air sebagai hal sepele, jadi merasa sangat bersalah. Dia biasa membeli air kemasan, lalu membuangnya begitu saja padahal masih tersisa setengahnya. Dia juga sering mencuci mobil atau mandi sambil membuang-buang air. Malam itu, dia berjanji untuk hidup lebih hemat air.

    Pagi hari sebelum berangkat sekolah, dia mandi dengan shower sehemat mungkin. Kali ini, dia membawa tempat minum (tumbler) ke sekolah. Di sekolah di browsing tentang cara pemanfaatan air yang lebih hemat. Dia juga mulai menanam pohon yang dirasa pas di halaman depan dan belakang rumahnya. Lalu bagaimana efeknya?

    Dalam satu bulan, dia berhasil menghemat pembayaran air bahkan uang jajannya pun jadi bersisa hanya karena dia membawa tumbler ke sekolah. Dalam 5 tahun, rumahnya menjadi lebih sejuk dan tidak pernah kekurangan air di musim kemarau. Lalu, 20 tahun kemudian?

    Entahlah, hanya dengan 1 orang yang melakukan penghematan air tidak akan berdampak apa-apa bagi planet ini. Bukan begitu? Makanya, Ayo hemat air mulai dari sekarang.
Advertisement
advertisement
Ari dan Air | Ari Kurniawan | 5

0 Komentar:

Posting Komentar